Live Traffic Feed

Latest Posts

Rabu, 09 Desember 2009

Ketika....

Ketika semua kembali kepada diri sendiri...
saya Bangkit Panji Anoraga, Seorang anak manusia yang mencari presisinya sebagai saya....
Saya adalah Saya, dan akan menjadi Saya....
read more...

Senin, 23 Februari 2009

Berapa Malaikat Yang Kau Temui Hari Ini????

Ya berapa malaikat yang sudah kau temui hari ini?
Atau hari kemarin?
Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja?
Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali?
Berapa?

Bahkan itu di rumahmu sendiri.
Berapa malaikat yang kau temui?

Tidak ada?
Tidak mungkin! Siapa bilang? Smile


Mari kita ingat-ingat lagi...


From

http://www.indofx-trader.net/topic623.html



Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena
membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu
terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan
bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat
malem-malem nangis. Berisik!"

Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal
bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.

Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau
bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu
terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan
kau membentaknya dengan ucapan, "Pake mata dong kalo
jalan!"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar
dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan
sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan
berbeda. Tertabrak mobil barangkali.

Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab
setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu
dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya.
Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males
amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif
dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum.

Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari
kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka,
mencibir, memaki orang lain?

Berapa kali?

Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak
sepantasnya pada malaikat.

Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai.
Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui.
Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti
kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu. Tuhan
selalu "bekerja" dengan cara yang misterius.
Maka, selalu lah peka dalam menyikapi semua ini. Smile

read more...

Rabu, 04 Februari 2009

read more...

Sebuah Kisah Cinta

Kekasih........

Ku tau betapa cintanya engkau pada diriku.....

ku tau betapa sayangnya engkau padaku......

namun perlu kau tau juga..........

bahwa

Aku pun ikut merasakan perih yang sama.........

Perih tiap matahari menunjukkan sinarnya....

Perih ketika bulan mulai menyinari gelapnya malam.......

Sampai kapan Cinta kita kan seperti ini...

Sampai kapan....

Aku hanya meminta kepada Tuhan agar memberikan jawaban dari setiap pengorbananmu...
read more...

Rabu, 07 Januari 2009

Perkembangan Pemikiran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kajian Teori

1. Landasan Perkembangan Pemikiran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Pendidikan terbuka dan jarak jauh merupakan suatu sistem yang sengaja dan dengan sadar dirancang untuk berbagai keperluan yang belum terpenuhi oleh pendidikan reguler. Landasan perkembangan dari pendidikan terbuka dan jarak jauh yaitu:

a. Landasan Ontologis

Hakikat pendidikan terbuka dan jarak jauh adalah memberikan kemungkinan pendidikan yang sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kondisi manusia yang bersangkutan.

b. Landasan Epistemologis

Sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dapat diselenggarakan yaitu dengan memberdayakan lembaga masyarakat, termasuk keluarga, untuk mengembangkan, memilih, dan atau memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka dengan mendayagunakan sumber yang tersedia secara optimal.

c. Landasan Aksiologis

Manfaat pendidikan terbuka dan jarak jauh pertama-tama ditujukan kepada peserta didik atau warga belajar, yaitu agar mereka dapat dimungkinkan mengikuti pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.

Dari landasan-landasan tersebut di atas maka kita dapat menyimpulkan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh yaitu sebagai berikut:

§ Dapat dipercepatnya usaha memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasaran kerja.

§ Dapat menarik minat calon peserta didik yang banyak.

§ Tidak terganggu kegiatan kehidupan sehari-hari karena pola dan jadwal pembelajaran yang luwes.

§ Harapan akan meningkatnya kerja sama dan dukungan pengguna lulusan atau keluaran dari pendidikan terbuka dan jarak jauh (output).

2. Awal Perkembangan Pemikiran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Bentuk pendidikan terbuka tertua (oleh masyarakat dan untuk masyarakat) yang sampai sekarang masih diselenggarakan adalah pendidikan pesantren. terbuka, karena misinya sebagai lembaga perjuangan menentang pemerintahan kolonial. Pendidikan pesantren ini diperkirakan dimulai pada abad ke-15, yaitu pada awal masuknya agama islam. Pendidikan pesantren pada dasarnya bertujuan untuk menanamkan loyalitas kepada islam yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang benar dan penerimaan norma-norma dan pola hidup secara islam, serta loyalitas kepada masyarakat islam.

Pendidikan Taman Siswa, yang notabene berbentuk pesantren, pada awalnya dapat dikategorisasikan sebagai salah satu bentuk pendidikan melawan penjajahan dalam segala bentuknya. Ki Hajar Dewantara (1889-1959) mengembangkan Pendidikan Taman Siswa dengan asas perjuangan, meliputi: (1). Adanya hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri; (2). Pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran, dan tenaga; (3). Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdasan pikiran karena hal tersebut dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat; (4). Berkendak untuk mengusahakan kekuatan diri sendiri. Dan pedomannya adalah “Tut Wuri Handayani, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa”.

Pada awal kemerdekaan banyak sekali diselenggarakan program pendidikan terbuka dan jarak jauh, yang tujuan untuk mengisi kekosongan tenaga yang diperlukan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Terbukti pada tahun 1950 pemerintah membentuk sebuah lembaga Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) yang mendapat tugas untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar, dengan menyediakan berbagai paket belajar tertulis dalam bidang profesi kependidikan. Lembaga ini sekarang dikenal dengan Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis. Dalam PELITA I digariskan kebijakan dalam GBHN untuk digunakannya siaran radio dan televisi untuk meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan. Dan menjelang akhir PELITA I pemerintah menetapkan suatu kebijakan yang berani yaitu, dengan membangun sistem komunikasi dengan satelit domestik, sistem ini kemudian dikenal dengan nama SKSD Palapa.

Kemudian pada tahun 1972 dalam rangka kerja sama SEAMEO INNOTECH Center diselenggarakan suatu model pendidikan dasar yang disebut IMPACT (Intruction Managed by Parents, Community and Teacher) atau PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru). Pada tahun 1974 Direktorat Pendidikan Masyarakat pada Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga, mulai mengembangkan paket belajar pendidikan dasar bagi orang dewasa. Paket ini disebut KEJAR PAKET A, KEJAR PAKET B (kemudian disambung dengan paket C). Istilah KEJAR merupakan akronim dari Kelompok Belajar atau Bekerja dan Belajar.

Setelah itu muncul lagi siaran radio untuk penataran guru SD diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1974. dan pada tahun 1979 perintisan SMP Terbuka (sekarang disebut dengan SLTP terbuka) mulai dilaksanakan pada 5 lokasi yaitu: Kalianda (Lampung Selatan), Plumbon (Cirebon), Adiwerna (Tegal), Kalisat (Jember), dan Terara (Lombok Barat). Evaluasi komprehensif yang diselenggarakan pada tahun 1992 menunjukan bahwa pada sistem SLTP Terbuka memenuhi indikator kualitatif meliputi fleksibilitas, kelayakan, efesiensi, dan efektifitas.

Beranjak tahun 2000an pendidikan terbuka dan jarak jauh dapat kita jumpai baik itu lewat buku-buku, CD-ROM, video langsung ke alamat peserta pendidikan jarak jauh. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep pendidikan jarak jauh (distance learning) ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan distance learning selanjutnya. Suatu sistem pendidikan jarak jauh dapat kita sederhanakan dan formulasikan sebagai berikut :

B. Kondisi Real Dalam Perkembangan Pemikiran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Bergesernya perkembangan pendidikan terbuka dan jarak jauh ke media internet membuat munculnya suatu paradigma baru dalam pendidikan tersebut yaitu ‘asyncronous time and separated location distance learning’. Jelasnya, media ini mampu menembus batasan waktu dan tempat. Cepatnya penyampaian informasi dan materi menjadikan teknologi ini sebagai suatu pertimbangan utama penggunaannya dalam distance learning. Hal ini sejalan dengan adanya cyberschool yang telah ada saat ini. Konsep cyberschool sebenarnya bagian dari suatu kesatuan distance learning, hanya saja cyberschool kurang memfasilitasi interaksi antara murid dan guru. Cyberschool hanya mendistribusikan materi-materi secara online. Memadukan dua hal ini akan sangat menguntungkan untuk mewujudkan suatu internet community di Indonesia khususnya.

Suatu sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh secara umum, akan sukses apabila didalamnya melibatkan interaksi maksimal antara guru dan muridnya, antara murid dengan berbagai fasilitas pendidikan dan interaksi antara murid dengan murid serta melibatkan pola pembelajaran yang aktif di dalam interaksi itu. Dalam faktanya di lapangan didapati berbagai aspek di atas dalam sistem pendidikan tradisional yang melibatkan interaksi ‘face to face’ antara murid dan guru, apakah sistem pendidikan jarak jauh dapat mengatasi interaksi ‘face to face’ antara guru dan murid di kelas secara 100%. Jawabannya, tergantung kepada media yang digunakan tapi angka 100% itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai oleh sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, yang jelas ada suatu trade-off teknologi yang dapat mendekati angka di atas.

Selain itu, keberhasilan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh juga harus ditunjang oleh adanya interaksi dan komunikasi yang efektif dan maksimal antara instruktur (guru) dan siswa, interaksi antara siswa dengan berbagai fasilitas pendidikan seperti modul-modul pendidikan interaksi antara siswa dengan 'orang-orang' sekitarnya, dan adanya pola pendidikan aktif dalam masing-masing interaksi tersebut. Juga keaktifan dan kemandirian siswa dalam pendalaman materi, mengerjakan soal-soal ujian, dan kreativitas mencari materi-materi penunjang dari sumber-sumber lain seperti internet atau digital-library.

C. Permasalahan Dalam Perkembangan Pemikiran Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Sasaran utama pada pendidikan terbuka dan jarak jauh tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang belum tersentuh mengecap pendidikan yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar, dan menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pegunungan, dan banyak pula yang dipisahkan antar pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program pendidikan terbuka dan jarak jauh mutlak terbuka lebar bagi mereka.

Tetapi permasalahan yang timbul dalam perkembangan pemikiran pendidikan terbuka dan jarak jauh itu adalah:

¨ Kurangnya interaksi baik antara anak didik maupun dengan tenaga pendidik itu sendiri sehingga sulit bagi anak didik untuk memahami materi yang diajarkan dan sulit untuk dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.

¨ Pendapat bahwa rendahnya mutu lulusan institusi pendidikan terbuka dan jarak jauh dibandingkan pendidikan tatap muka.

¨ Sulitnya memilih media pembelajaran yang efektif dan interaktif dalam pelaksanaan pendidikan terbuka dan jarak jauh.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan yang telah kami sampaikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas yaitu sebagai berikut:

1. Apa saja bentuk-bentuk interaksi pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam merancang media pembelajaran interaktif untuk sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh?

2. Apakah benar pendapat bahwa lulusan dari pendidikan terbuka dan jarak jauh itu memiliki mutu yang rendah?

3. Bagaimana memilih media pembelajaran yang efektif dan interaktif dalam pelaksanaan pendidikan terbuka dan jarak jauh?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Bentuk-Bentuk Interaksi Pembelajaran Yang Dapat Diaplikasikan Dalam Merancang Media Pembelajaran Interaktif Untuk Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh.

Tidak seperti pendidikan konvensional atau pendidikan langsung, sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh membutuhkan pengelolaan dan manajemen pendidikan yang khusus, baik dari sisi siswa maupun instruktur (guru) agar tujuan pendidikan bisa terwujud dan pendidikannya pun harus fokus pada kebutuhan instruksional siswa.

Dari sisi siswa, salah satu faktor penting adalah keseriusan mengikuti proses belajar mengajar di saat instruktur (guru) tidak berhadapan langsung dengan siswa. Sedangkan dari sisi instruktur (guru) adalah perhatian, percaya diri guru, pengalaman, mudah menggunakan peralatan, kreativitas, active learning, dan kemampuan menjalin interaksi dan komunikasi jarak jauh dengan siswa.

Dalam sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh faktor penting dalam penunjang aktivitas pembelajaran adalah interaksi. Interaksi memungkinkan pebelajar mengatasi masalah yang di hadapi dalam upaya memahami materi. Interaksi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan pengukuhan (reinforcement) terhadap hasil belajar yang dicapai oleh pebelajar. Selain itu, interaksi dapat digunakan sebagai sarana untuk memperbaiki kesalahan (remedial) pada waktu mengikuti proses pembelajaran dan dapat digunakan juga sebagai sarana untuk menyampaikan materi yang perlu dipelajari secara mendalam oleh pebelajar (eleborasi).


Heinich dkk. (1986) mengemukakan ada 5 bentuk interaksi pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam merancang sebuah media pembelajaran interaktif untuk sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh yaitu:

1. Tutorial

Pada interaksi yang berbentuk tutorial pengetahuan dan informasi ditayangkan dalam unit-unit kecil yang kemudian diikuti dengan serangkaian pertanyaan. Pola pembelajaran pada interaksi berbentuk tutorial biasanya dirancang secara bercabang (branching). Pebelajar dapat diberi kesempatan untuk memilih topik-topik pembelajaran yang ingin dipelajari dalam suatu mata pelajaran, semakin banyak topik-topik pembelajaran yang dipilih, akan semakin mudah program tersebut diterima oleh pebelajar. Dalam interaksi ini, informasi dan pengetahuan dikomunikasikan sedemikian rupa seperti pada waktu pengajar yang memberi bimbingan akademik kepada pebelajar.

2. Permainan (Games)

Interaksi berbentuk permainan (games) akan bersifat intruksional apabila pengetahuan dan keterampilan yang terdapat di dalamnya bersifat akademik dan mengandung unsur pelatihan (training) dan juga apabila dalam permainan tersebut terdapat tujuan pembelajaran (intructional objective) yang harus dicapai. Dalam program berbentuk permainan harus ada aturan (rule) yang dapat dipakai sebagai acuan untuk menentukan orang yang keluar sebagai pemenang. Penentuan pemenang dalam permainan ditentukan berdasarkan skor yang dicapai kemudian dibandingkan dengan prestasi belajar standar yang harus dicapai.

3. Simulasi (Simulation)

Dalam interaksi berbentuk simulasi pebelajar dihadapkan pada suatu situasi buatan (artifisial) yang menyerupai kondisi dan situasi yang sesungguhnya. Hal penting yang harus diperhatikan dalam interaksi ini adalah pemberian umpan balik untuk memberi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar pebelajar setelah mengikuti program simulasi.

4. Penemuan (Discovery)

Dalam interaksi ini pebelajar diminta untuk melakukan percobaan yang bersifat “trial and error” dalam memecahkan suatu permasalahan. Pebelajar dituntut untuk dapat mencari informasi dan membuat kesimpulan dari sejumlah informasi yang telah dipelajarinya. Dan diharapkan dari proses belajar yang dilakukannya tersebut pebelajar dapat menemukan konsep dan pengetahuan baru yang belum dipelajari sebelumnya.

5. Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Bentuk interaksi seperti ini memberi kemungkinan terhadap pebelajar untuk melatih kemampuan dalam memecahkan suatu masalah. Pebelajar dituntut untuk berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan suatu permasalahan. Umpan balik dapat dipergunaan oleh pebelajar untuk mengetahui tingkat keberhasilannya dalam memecahkan soal atau masalah. Program-program berbentuk pemecahan masalah biasanya berisi beberapa soal atau masalah yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesulitan yang dikandung di dalamnya. Pebelajar dapat mencoba memecahkan masalah yang lebih tinggi tingkatannya setelah berhasil memecahkan masalah dengan tingkat kesulitan yang lebih rendah.

Dari semua bentuk-bentuk interaksi tersebut diatas faktor yang penting di dalamnya adalah umpan balik. Menurut Hannafin dan Peck (1998) umpan balik dalam media pembelajaran interaktif dapat berbentuk: “…. informasi kepada pebelajar tentang prestasi belajar yang telah ditempuh, baik berupa keberhasilan belajar atau informasi tentang hasil belajar yang perlu diperbaiki”

B. Pendapat Bahwa Lulusan Dari Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh itu Memiliki Mutu Yang Rendah.

Masih banyak berkembang sinyalemen di masyarakat bahwa pendidikan terbuka dan jarak jauh dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mukhopadhjay (1988) memperlihatkan penyebabnya adalah kurang tajam perumusan visi dan misi pendidikan terbuka dan jarak jauh dan masih dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang tidak tertampung di perguruan tinggi tatap muka.

Pertanyaan lain yang terasa mengusik pelaku pendidikan terbuka dan jarak jauh adalah tuduhan rendahnya mutu lulusan institusi pendidikan jarak jauh jika dibandingkan dengan pendidikan tatap muka. Keraguan akan kualitas lulusan pendidikan terbuka dan jarak jauh masih tetap muncul karena penambahan jumlah mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan penurunan mutu (Suparman, 1989).

Di Australia, hasil studi Selim (1989) dalam Suparman (1989) menyatakan bahwa prestasi mahasiswa pendidikan terbuka dan jarak jauh justru lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa perguruan tinggi konvensional. Sunarwan (1982) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan prestasi belajar siswa yang terlibat pendidikan menggunakan modul dan pengajaran tatap muka.

Dan pada dasarnya semua jenis pendidikan baik itu pendidikan konvensional maupun pendidikan terbuka dan jarak jauh itu sebenarnya sama saja. Namun, perbedaanya hanya terdapat pada tatap muka dan interaksi. Hal yang terpenting dan yang paling menentukan prestasi dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh itu adalah interaksi karena hanya dengan interaksi peserta didik pendidikan terbuka dan jarak jauh dapat memahami dan menangkap apa yang dipelajarinya sehingga memungkinkan prestasi peserta didik tidak kalah dengan peserta didik konvensional apalagi pendidikan terbuka dan jarak jauh telah didukung dengan perkembangan internet yang memudahkan peserta didik pendidikan terbuka dan jarak jauh mendapatkan informasi dengan cepat dan terkini.

C. Memilih Media pembelajaran Yang Efektif dan Interaktif Dalam Pelaksanaan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Dalam penyelenggaraan Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (SPTJJ), penggunaan media tampaknya telah menjadi keharusan. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar bahan ajar pada SPTJJ disampaikan melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun non cetak. Sepanjang sejarah penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh, media telah digunakan sebagai sarana penyampai materi ajar. Adanya keterpisahan antara pengajar dengan peserta didik, maka diperlukan media sebagai sarana komunikasi yang menjembatani antara pengajar dengan peserta didik. Dalam memilih media pembelajaran, Kemp, dkk. (1985) mengemukakan bahwa pemilihan media pembelajaran harus didasarkan pada karakteristik dan kontribusi yang spesifik terhadap proses komunikasi dan belajar.

Sedangkan menurut Heinich, dkk. (1996) media harus mampu mengatasi hambatan ruang dan waktu dalam mengkomunikasikan informasi dan ilmu pengetahuan. Media cetak, siaran radio, dan siaran televisi telah banyak digunakan sebagai sarana penyampai materi pada sejumlah institusi pendidikan jarak jauh, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang karena ketiga media tersebut adalah media yang sangat efektif dan interaktif. Media cetak memiliki tingkat keluwesan yang tinggi untuk digunakan baik pada kegiatan belajar secara individu maupun kelompok. Sedangkan kelebihan utama siaran radio dan siaran televisi adalah pada kemampuannya menjangkau khalayak dalam wilayah geografis yang sangat luas. Selain ketiga media tersebut ada sebuah jaringan universal yang bisa mengakses segala informasi dengan mudah dan cepat yaitu “internet”. Internet juga merupakan media yang efektif dan interaktif guna untuk mendukung pembelajaran pada pendidikan terbuka dan jarak jauh.

BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Pendidikan terbuka dan jarak jauh merupakan suatu sistem yang sengaja dan dengan sadar dirancang untuk berbagai keperluan yang belum terpenuhi oleh pendidikan reguler. Seiring dengan bergesernya perkembangan pendidikan terbuka dan jarak jauh ke media internet membuat munculnya suatu paradigma baru dalam pendidikan tersebut yaitu ‘asyncronous time and separated location distance learning:.

Suatu sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh akan sukses apabila didalamnya melibatkan interaksi maksimal antara guru dan muridnya, antara murid dengan berbagai fasilitas pendidikan dan interaksi antara murid dengan murid serta melibatkan pola pembelajaran yang aktif di dalam interaksi itu. Selain itu, keberhasilan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh juga harus ditunjang oleh adanya interaksi dan komunikasi yang efektif dan maksimal antar komponen pendidikan dan adanya pola pendidikan aktif dalam masing-masing interaksi tersebut. Juga keaktifan dan kemandirian siswa.

Adapun bentuk-bentuk interaksi pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam merancang media pembelajaran interaktif untuk sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh.yaitu :

1. Tutorial

Pengetahuan dan informasi ditayangkan dalam unit-unit kecil yang kemudian diikuti dengan serangkaian pertanyaan.

2. Permainan (Games)

Interaksi bersifat intruksional apabila pengetahuan dan keterampilan yang terdapat di dalamnya bersifat akademik dan mengandung unsur pelatihan (training)

3. Simulasi (Simulation)

Pebelajar dihadapkan pada suatu situasi buatan (artifisial) yang menyerupai kondisi dan situasi yang sesungguhnya.

4. Penemuan (Discovery)

Pebelajar diminta untuk melakukan percobaan yang bersifat “trial and error” dalam memecahkan suatu permasalahan.

5. Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Pebelajar dituntut untuk berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan suatu permasalahan.

Masih banyak berkembang sinyalemen di masyarakat bahwa pendidikan terbuka dan jarak jauh dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Hal ini dikarenakan kurang tajamnya perumusan visi dan misi pendidikan terbuka dan jarak jauh dan masih dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang tidak tertampung di perguruan tinggi tatap muka.

Disamping itu dipandang rendahnya mutu lulusan institusi pendidikan jarak jauh jika dibandingkan dengan pendidikan tatap muka karena penambahan jumlah mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan penurunan mutu.

Dan pada dasarnya semua jenis pendidikan baik itu pendidikan konvensional maupun pendidikan terbuka dan jarak jauh itu sebenarnya sama saja. Namun, perbedaanya hanya terdapat pada tatap muka dan interaksi.

Dalam penyelenggaraan Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (SPTJJ), penggunaan media menjadi suatu keharusan. Sebagian besar bahan ajar pada SPTJJ disampaikan melalui berbagai jenis media, baik cetak maupun non cetak termasuk internet.

DAFTAR PUSTAKA

- Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:KENCANA

- Aristohadi. 2008. Media Pembelajaran Dalam Pendidikan Jarak Jauh. http://aristohadi.wordpress.com. 13 Oktober 2008, 20:48 WIB

- http://saina-kurtekdik.blogspot.com. 2008. TIK. 13 Oktober 2008, 20:38 WIB

- http://agoestbkl.multiplx.com. 2008. 13 Oktober 2008, 21:05 WIB

read more...

PENDIDIKAN JARAK JAUH


Pendidikan Jarak Jauh secara tersurat sudah termaktub di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang "Sistem Pendidikan Nasional". Rumusan tentang Pendidikan Jarak Jauh terlihat pada BAB VI Jalur, jenjang dan Jenis Pendidikan pada Bagian Kesepuluh Pendidikan Jarak Jauh pada Pasal 31 berbunyi : (1) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; (2) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tata muka atau regular; (3) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta system penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standard nasional pendidikan; (4) Ketentuan mengenai penyelenggarakan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Ini menunjukan kepada kita bahwa pendidikan jarak jauh merupakan program pemerintah yang perlu terus didukung. Pemerintah merasakan bahwa kondisi pendidikan negeri kita perlu terus dibenahi, dan tentunya diperlukan strategi yang tepat, terencana dan simultan. Selama ini belum tersentuh secara optimal, karena banyak hal yang juga perlu dipertimbangkan dan dilakukan pemerintah didalam kerangka peningkatan kualitas sector pendidikan.

Pendidikan jarak jauh pada kondisi awal sudah dijalankan pemerintah melalui berbagai upaya, baik melalui Belajar Jarak Jauh yang dikembangkan oleh Universitas Terbuka, mapun Pendidikan Jarak Jauh yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Departemen Pendidikan Nasional, melalui program pembelajaran multimedia, dengan program SLTP dan SMU Terbuka, Pendidikan dan Latihan Siaran Radio Pendidikan.

Berkenaan dengan itu, yang pasti sasaran dari program pendidikan jarak jauh tidak lain adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang belum tersentuh mengecap pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak terkecuali anak didik yang sempat putus sekolah, baik untuk pendidikan dasar, menengah. Demikian pula bagi para guru yang memiliki sertifikasi lulusan SPG/SGO/KPG yang karena kondisi tempat bertugas di daerah terpencil, pedalaman, di pergunungan, dan banyak pula yang dipisahkan antar pulau, maka peluang untuk mendapatkan pendidikan melalui program pendidikan jarak jauh mutlak terbuka lebar. Perlu dicatat bahwa pemerintah telah melakukan dengan berbagai terobosan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Upaya keras yang dilakukan adalah berkaiatan dengan lokalisasi daerah terpencil, pedalaman yang sangat terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi, komunikasi, maupun informasi. Hal ini sesegera mungkin untuk diantisipasi, sehingga jurang ketertinggalan dengan masyarakat perkotaan tidak terlalu dalam, dan segera untuk diantisipasi.

Semangat otonomi daerah memberikan angin segar terhadap pelaksanaan program pendidikan jarak jauh. Apalagi bila kita telusuri, masih banyak para guru yang mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, akan tetapi karena keterbatasan dana, ditambah lagi ketidakmungkinannya untuk meninggalkan sekolah, maka cita-cita untuk melanjutkan belum tercapai.

Akan tetapi dengan melalui program pendidikan jarak jauh melalui pola pembelajaran multi media yang digalakan oleh Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Pendidikan Nasional, merupakan angin segar bagi para guru-guru yang berpendidikan SPG/SGO untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Diploma Dua melalui Program PGSD. Demikian pula bagi para guru-guru yang baru direkrut melalui program guru bantu yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat maupun guru kontrak yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, pada umumnya banyak lulusan SMU/SMK/MA tentunya dari segi kualitas perlu terus ditingkatkan, apalagi yang menyangkut kemampuan didaktik, metodik dan paedogogik masih perlu banyak belajar, karena selama menjalani pendidikan di sekolah menengah tidak pernah mendapatkan materi tersebut. Mereka-mereka ini perlu diberi kesempatan untuk mengikuti program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) selama dua tahun.

Katanya Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Dinas Pendidikan Nasional bekerjasama dengan LPTK, dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota tahun depan akan melaksanakan program pendidikan jarak jauh, yang akan diujicoba untuk lima propinsi se Indonesia, Yakni Propinsi Riau, Sumatera Barat, Papua, Gorontalo, dan Ujung Pandang.

Pola yang diterapkan melalui program pembelajaran multimedia, dengan melibatkan LPTK yang ada, Dinas Kabupaten/Kota serta Pustekkom Propinsi. Para guru tidak perlu lagi meninggalkan tugas mengajar, dan tentunya proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif seperti biasa. Para tutorial dan teknisi dari LPTK yang akan datang ke daerah untuk melakukan proses pembelajaran.

Telah terjadi distribusi hak dan wewenang antara, LPTK, Pustekkom, Dinas Pendidikan, dalam proses pelaksanaan, dan masing-masing tetap menyatukait, dan ada beberapa program yang dilaksanakan secara bersama-sama. Hal ini telah diatur sesuai dengan kesepakatan antara LPTK, Dinas Pendidikan, Pustekkom beberapa waktu yang lalu.

Untuk itu Dinas Pendidikan Propinsi Riau bersama dengan LPTK (FKIP UNRI) akan melaksanakan sosialisasi tentang program ini, telah melakukan rapat koodinasi tanggal 15 November 2003 bersama seluruh kepala Dinas Pendidikan Propinsi Riau. Pada kesempatan itu Pemerintah Pusat melalui Pusat Teknologi, Komunikasi dan Informasi memberikan beberapa informasi pada pertemuan itu. Sehingga kesepakatan untuk melaksanakan program peningkatan Sumber Daya Manusia dalam hal ini "Guru" dapat terwujud sesuai dengan apa yang direncanakan. Semoga.
read more...

Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Web Ramadhan Kurnia Nusa & Onno W. Purbo

Distance Learning atau pendidikan jarak jauh sebenarnya bukanlah sesuatu hal atau barang yang baru di dunia pendidikan. Sudah cukup banyak lembaga atau institusi yang melakukan hal ini dan biasanya dilakukan dengan mengirimkan berbagai materi kuliah dan informasi dalam bentuk cetakan, buku, CD-ROM, video langsung ke alamat peserta pendidikan jarak jauh. Tidak hanya hal-hal yang berhubungan dengan kuliah secara langsung saja yang dikirimkan ke peserta tapi juga berbagai masalah administrasi dan manajemennya.

Bila kembali ke konsep dasar pada suatu sistem pendidikan ‘tradisional’ yang dilakukan saat ini, para siswa dan guru bertemu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Sistem pendidikan ‘tradisional’ ini kelak akan bergeser ke pada suatu ‘distance learning based education paradigm’ dengan dilandasi bahwa agak sulit untuk mengumpulkan peserta kursus, training atau pendidikan pada satu waktu dan tempat tertentu sedangkan peserta tersebar di wilayah yang berbeda-beda dan pada dasarnya materi-materi yang seharusnya disampaikan di kelas, dapat diberikan tanpa kehadiran para peserta dan dosen secara langsung di kelas.

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep distance learning ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan distance learning selanjutnya.

Bergesernya perkembangan distance learning ke media internet membuat munculnya suatu paradigma baru dalam distance learning yaitu ‘asyncronous time and separated location distance learning’. Jelasnya, media ini mampu menembus batasan waktu dan tempat. Cepatnya penyampaian informasi dan materi menjadikan teknologi ini sebagai suatu pertimbangan utama penggunaannya dalam distance learning. Hal ini sejalan dengan adanya cyberschool yang telah ada saat ini. Konsep cyberschool sebenarnya bagian dari suatu kesatuan distance learning, hanya saja cyberschool kurang memfasilitasi interaksi antara murid dan guru. Cyberschool hanya mendistribusikan materi-materi secara online. Memadukan dua hal ini akan sangat menguntungkan untuk mewujudkan suatu internet community di Indonesia khususnya.

Berkembangnya teknologi dalam Sistem Pendidikan Jarak jauh ini kerap menimbulkan suatu pertanyaan, ‘Bagaimana suatu teknologi dapat menggantikan sistem pendidikan tradisional yang melibatkan interaksi langsung antara peserta dan pendidik ?’.
Untuk menjawabnya, kita harus mengetahui dahulu bagaimana sistem pendidikan jarak jauh yang efektif dan sebelum membuat suatu web based distance learning, harus mempertimbangkan berbagai aspek-aspek yang perlu serta trade-off-nya untuk mencapai suatu sistem pendidikan jarak jauh yang baik.

Suatu sistem pendidikan jarak jauh secara umum, akan sukses apabila didalamnya melibatkan interaksi maksimal antara guru dan muridnya, antara murid dengan berbagai fasilitas pendidikan dan interaksi antara murid dengan murid serta melibatkan pola pembelajaran yang aktif di dalam interaksi itu. Kita mendapati berbagai aspek di atas dalam sistem pendidikan tradisional yang melibatkan interaksi ‘face-to-face’ antara murid dan guru, apakah sistem pendidikan jarak jauh dapat mengatasi interaksi ‘face-to-face’ antara guru dan murid di kelas secara 100 %. Jawabannya, tergantung kepada media yang digunakan tapi angka 100 % itu bukanlah sesuatu mudah untuk dicapai oleh sistem pendidikan jarak jauh, yang jelas ada suatu trade-off teknologi yang dapat mendekati angka di atas.
Penggunaan teknologi dalam menunjang suatu sistem pendidikan jarak jauh harus diperhatikan dari bentuk pendidikan yang diberikan. Suatu kursus bahasa Inggris salah satunya, pada akhir perkuliahan peserta dituntut untuk mempunyai reading dan listening skill yang baik, untuk itu medianya dapat berupa sound, gambar dan bentuk multimedia lainnya yang dapat di kirimkan melalui internet.

Bila dibatasi pada web based distance learning maka pengguna atau dalam hal ini guru dan murid memerlukan fasilitas internet untuk tetap menjaga konektivitas dengan distance learning tersebut. Kemampuan peserta untuk tetap menjaga connectivity menentukan bagi kesinambungan suatu sistem pendidikan jarak jauh. Dengan cara inilah kita dapat menciptakan suatu internet based community di Indonesia.

Suatu sistem pendidikan jarak jauh dapat kita sederhanakan dan formulasikan sebagai berikut :

Materi pendidikan + teknologi untuk berinteraksi + guru = pembelajaran bagi murid.

Apabila kita umpamakan suatu web based distance course sebagai suatu community maka di dalamnya harus dapat memfasilitasi bertemunya atau berinteraksinya murid dan guru. Agak sulit memang untuk memindahkan apa yang biasa dilakukan oleh guru di depan kelas kepada suatu bentuk web atau materi online yang harus melibatkan interaksi berbagai komponen di dalamnya. Adanya sistem ini membuat mentalitas dosen dan guru harus berubah dan sudah seharusnya, perbedaan karakteristik guru atau dosen dalam mengajar tidak tampak dalam metode ini.

Seperti layaknya sebuah sekolah atau universitas, metode ini juga harus mampu memberikan informasi perkuliahan kepada peserta. Informasi itu harus selalu dapat diakses oleh siswa dan dosen serta selalu ter-update setiap waktu.
Informasi yang sering dibutuhkan itu berupa silabus kuliah, jadwal kuliah, pengumuman, siapa saja peserta kuliah, materi kuliah dan penilaian atas prestasi siswa.

Bila kita buatkan suatu model maka suatu web based distance learning setidaknya memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
• Pusat kegiatan siswa
sebagai suatu community, web based distance learning harus mampu untuk menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa dimana mahasiswa dapat mengasah kemampuannya, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya.
• Interaksi dalam group
Disini para murid dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang telah diberikan oleh dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.
• Personal administratif supporting system
dimana para siswa dapat me-review membershipnya dalam suatu course, menyediakan informasi siswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya
• General information
Menyediakan informasi umum untuk peserta atau pengunjung web pada umumnya. Serta menyediakan beberapa fasilitas untuk umum tanpa proses registrasi peserta terlebih dahulu.
• Pendalaman dan ujian
Biasanya dosen atau guru sering mengadakan quiz-quiz singkat dan tugas-tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh suatu web based distance learning
• Digital library
Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk sebagai suatu database.
• Materi online diluar materi kuliah
Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan-bahan bacaan dari web-web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan-bahan online lainnya untuk di publikasikan kepada peserta lainnya.

Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi concern utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada non text based material.

Munculnya web based distance learning, tentunya akan membuat para guru atau dosen yang kurang mengetahui konsepnya akan merasa terancam dari pekerjaannya tapi sebenarnya itu semua tidak beralasan, sebab masih banyak yang perlu dilakukan oleh guru atau dosen tersebut, sebut saja mempersiapkan materi, memberi tugas, quiz, ujian, membuat soal, memeriksa jawaban esai dan sebagainya. Bagaimana mungkin hal-hal tersebut tidak melibatkan mereka ?
Bagaimana bila kita memandang dari sisi para siswa, apakah mereka siap untuk tidak berinteraksi langsung face-to-face dengan dosen atau gurunya ?
Agaknya pertanyaan ini akan menimbulkan suatu fakta yang menggelitik bahwa tidak sedikit siswa yang justru senang ketika dosen atau gurunya tidak masuk ke kelas. Benarkah ? Jawabannya terpulang kepada anda sendiri, toh anda pernah mengalami atau sedang mencari ilmu. Apa anda lebih senang guru atau dosen masuk atau tidak ?

Oleh : Ramadhan Kurnia Nusa









read more...